A still from a video showing Indonesian migrant workers chanting in Mandarin. Photo: Facebook/Alimah Ccuk Ponorogo

Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah pekerja migran Indonesia meneriakkan beberapa slogan dalam bahasa Mandarin dalam sebuah pelatihan agen tenaga kerja telah menjadi viral di media sosial di Taiwan dan menuai kritik.

Beberapa netizen mengatakan bahwa kelompok PMI dalam video tersebut telah dicuci otaknya untuk menjadi pekerja pabrik yang “patuh, ideal”.

Video berdurasi tiga menit tersebut telah menjadi viral di media sosial setelah diposkan pada awal Juli, memperlihatkan dua baris pekerja, masing-masing barisan dengan 10 pekerja campur pria dan wanita yang menggunakan kaos warna kuning dan berdiri dalam posisi militer layaknya tentara, menunduk hormat tiga kali sebelum meneriakkan slogan dalam bahasa Mandarin, bahasa utama di negara pulau tersebut, yang berbunyi: “Saya mencintai pekerjaan saya. Saya mau bekerja. Saya tidak butuh hari libur dan saya bersumpah tidak akan kabur selama saya bekerja di Taiwan.”

Namun seorang kolumnis United Daily News merasa tidak terhibur dengan video tersebut dan diapun menulis bahwa kecenderungan perusahaan-perusahaan di Taiwan yang memulai hari pertama kerja para pekerja dengan membariskan mereka dan meminta mereka untuk meneriakkan slogan untuk meningkatkan motivasi dan kesetiaan, menurutnya, hanya merendahkan para pekerja tersebut dan merupakan sebuah cara untuk para majikan menegaskan kepemimpinan otoriter, atau yang lebih parah, kediktatoran majikan tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang Layanan Tenaga Kerja Taiwan, pekerja asing di Taiwan harus bekerja pada sebuah perusahaan dan tidak berpindah perusahaan atau berganti pekerjaan setidaknya tiga tahun, sekalipun mereka mengalami pelecehan dan eksploitasi di tempat kerja mereka.

Beberapa orang mengatakan bahwa slogan-slogan tersebut mempromosikan dan mendukung, bahkan menegakkan perbudakan moderen yang secara khusus menargetkan para pekerja migran yang rentan.

Original: Controversial video shows agency training ‘ideal’ workers