Kaohsiung International Airport, Taiwan. Photo: Google Maps

Seorang pekerja migran laki-laki asal Indonesia berusia 38 tahun yang bekerja di kota Kaohsiung, Taiwan, pada hari Senin dikonfirmasi telah terkena virus rubella setelah dia kembali dari mengunjungi kampung halamannya di Indonesia, menjadikannya kasus pertama terjangkitnya penyakit campak di Taiwan tahun ini.

Pria tersebut pulang ke Indonesia pada tanggal 5 Maret dan kembali ke Taiwan pada tanggal 25 Maret. Satu minggu kemudian, pada tanggal 1 April, dia sakit dan demam, disertai dengan batuk dan gatal-gatal selama dua hari berikutnya, berdasarkan laporan berita China Times.

Pada tanggal 6 April, dia berobat ke klinik setelah kelenjar lehernya membengkak. Semua gejala yang dimilikinya dikonfirmasi sebagai gejala penyakit campak, yang juga dikenal dengan nama rubella.

Dia kemudian di karantina di sebuah rumah sakit. Pada hari Senin, Pusat Penanggulangan Penyakit setempat juga mengkonfirmasikan bahwa pasien tersebut telah terkena penyakit campak.

Dari pembelajaran gejala yang ada dan kronologi perjalanan pasien ke luar negri, kasus ini dikategorikan sebagai kasus penyakit yang masuk dari luar Taiwan, mengingat virus rubella memiliki masa inkubasi sekitar dua sampai tiga minggu.

Tidak ada satupun dari orang-orang yang dikontak sang pasien antara tanggal 27 Maret sampai 10 April yang dilaporkan sakit atau menunjukkan gejala rubella.

Berdasarkan data dari Pusat Penanggulangan Penyakit setempat, ada 14 kasus penyakit campak di Taiwan antara tahun 2015 dan 2017, sembilan diantaranya masuk dari luar Taiwan.

Rubella biasanya memiliki gejala-gejala yang ringan, namun apabila seorang wanita yang sedang mengandung terkena penyakit ini, bayi yang dikandung dapat terkena dampak yang cukup parah.

Original: Indonesian is year’s first imported rubella case