Meiliana. Photo: YouTube.

Mahkamah Agung di Indonesia telah memutuskan untuk tetap memberlakukan hukuman 18 bulan penjara bagi seorang wanita yang dipidana atas pelanggaran terhadap UU Penistaan Agama tahun lalu.

Meiliana, seorang Indonesia etnis Tionghoa berusia 44 tahun, dituduh berkomentar mengenai pengeras suara di sebuah masjid di Tanjung Balai, Sumatra Utara pada 2016 lalu. Kabarnya dia mengatakan bahwa pengeras suara tersebut terlalu keras suaranya.

Pengacara sang wanita, Ranto Sibarani, berbicara kepada Al Jazeera bahwa tidak ada bukti yang nyata bahwa klien nya telah melakukan penistaan agama. Dia menggambarkan bahwa klien nya telah menjadi “korban hoaks” yang telah menghancurkan hidupnya hanya dalam waktu satu minggu.

Pengacara itu berkata keputusan pengadilan yang dimaksud dapat menjadi berbahaya karena dapat menjadi tolak ukur hukum dan di kemudian hari orang-orang tidak bertanggung-jawab dapat menyebarkan berbagai tuduhan palsu yang dapat mempidanakan orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah di bawah UU Penistaan Agama.

Meiliana dituduh mengeluh kepada tetangga nya Kasini pada 22 Juli 2016 mengenai pengeras suara di sebuah masjid setempat. Kasini mengklaim bahwa Meiliana meminta agar suara Azan dapat dikecilkan sedikit.

Massa kemudian menyerang rumahnya dan membakar halaman depan rumah tersebut. Meiliana berhasil melarikan diri bersama dengan anak-anak nya ketika seorang Muslim yang sedang mengendarai mobil saat itu menolong mereka kabur meninggalkan lokasi.

Sejumlah anggota dari massa yang dimaksud kemudian dipanggil ke pengadilan sebagai saksi dalam persidangan. Sebuah surat pernyataan yang ditulis oleh para anggota massa tersebut dimasukkan sebagai bukti. Mereka mengklaim bahwa wanita itu berkata Azan menyakiti telinganya ketika sekelompok orang datang menentangnya dan melempari batu serta botol ke rumah nya sebagai bentuk protes dari keluhan Meiliana.

Namun Sibarani berkata tidak ada bukti pembicaraan antara Meiliana dan massa yang dimaksud, dan surat pernyataan tersebut ditulis enam bulan setelah kejadian.

Sang pengacara menambahkan bahwa tim pembela saat ini sedang mempertimbangkan opsi-opsi hukum terakhir yang mereka miliki. Dia berkata ada bukti video “pembicaraan” di luar rumah Meiliana dan akan video tersebut akan digunakan ketika mereka mengajukan permohonan untuk peninjauan ulang hukum.

Dia menegaskan bahwa apabila kasus tersebut tidak diteruskan maka artinya sebuah surat pernyataan dapat dengan mudah menuduh seseorang melakukan penistaan agama tanpa bukti nyata.

Original: Ruling to jail woman in mosque noise case upheld

Asia Times Financial is now live. Linking accurate news, insightful analysis and local knowledge with the ATF China Bond 50 Index, the world's first benchmark cross sector Chinese Bond Indices. Read ATF now. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *