Photo: iStock.

Tidak banyak platform yang tersedia bagi para pekerja migran di seluruh penjuru Asia untuk mengungkapkan perasaan mereka. Namun sekarang, berbagai kompetisi puisi telah memberikan suara bagi mereka.

Deni Apriyani, seorang pekerja rumah tangga asal Indonesia, pergi ke Singapura pada 2013 dengan harapan untuk menghasilkan cukup uang untuk membeli tanah bagi keluarganya di kampung halaman. Dia bekerja keras pada sebuah keluarga ekspatriat dan di setiap akhir kerjanya selama 14 jam sehari, dia menulis puisi di ponsel nya.

Dia berkata kepada Reuters bahwa dia merasa senang saat menulis, dan mengetahui bagaimana orang-orang menerima para pekerja migran sebagai sesama manusia ketika orang-orang tersebut membaca puisi-puisi karya para pekerja migran, membuatnya gembira.

Pada 2017 lalu, Apriyani memenangkan sebuah kompetisi puisi yang diadakan bagi pekerja migran, dan di tahun 2018, salah satu puisinya diterbitkan dalam sebuah buku, yang merupakan sebuah kompilasi lebih dari 60 karya yang ditulis oleh berbagai penulis dan pekerja migran di Singapura.

Puisinya yang berjudul “Pembunuh” memfokuskan pada stigma yang dihadapi oleh para pekerja migran yang berani mencari cinta di negara kota tersebut. “Kau panggil mereka pelacur, kau panggil mereka tidak berguna, kau panggil mereka memalukan, namun tahukah kau kisah mereka dibalik semua itu?” begitu tanya sang penulis dalam puisinya.

Seorang penulis Singapura bernama Jamal Ismail berkata pengalaman yang dimiliki para pekerja migran ini memperkaya dunia sastra lokal. Dia menambahkan meskipun kata-kata yang mereka pakai mungkin tidak indah, mereka telah melakukan lebih dari sekedar baik dalam hal humanisme.

Ismail juga mengatakan bahwa pekerja migran seringkali termarjinalisasi, membuat mereka menjadi kesepian. “Ketika anda kesepian, itulah waktu dimana anda merenungkan makna hidup, yang membuat karya mereka begitu kuat,” demikian imbuhnya.

Selain buku-buku, pekerja migran juga mulai mendapatkan suara mereka melalui berbagai bentuk seni lainnya. Pada bulan Februari, sebuah film berjudul “A Land Imagined” (“Sebuah Negeri Yang Dibayangkan” dalam Bahasa Indonesia) dirilis di Singapura, dengan fokus utama pada kisah para pekerja migran yang menerima gaji rendah. Para kritik telah menyebut film tersebut sebagai sebuah tonggak sejarah dalam perfilman Singapura.

Original: Domestic worker finds meaning through her poems

Asia Times Financial is now live. Linking accurate news, insightful analysis and local knowledge with the ATF China Bond 50 Index, the world's first benchmark cross sector Chinese Bond Indices. Read ATF now. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *