Jakarta, Indonesia. Photo: Wikimedia Commons


Hanya semenjak awal tahun 2019 saja, Indonesia telah menyaksikan setidaknya delapan kasus yang berbeda mengenai para pria yang membunuh istri dan anak-anak mereka.

Pada 16 Februari, Nardian, 38, diduga membunuh istrinya, Sri Dewi, beserta anak mereka yang terkecil, setelah selesai mengikuti sebuah acara sembahyang pada malam hari di sebuah desa di Blitar, Jawa Timur. Sugeng, saudara laki-laki sang istri, dan ayah mereka, Supriadi, dikabarkan berusaha untuk menahan pelaku namun gagal, ketika Nardian menggunakan sebilah pisau untuk menusuk istri dan anak mereka, Vika, yang masih berusia tujuh bulan, di luar rumah mereka, sampai kedua korban tewas.

Saksi mata segera mengerumuni rumah tersebut dan melihat Nardian menangis sementara memeluk mayat istrinya. Setelah ditangkap, Nardian kabarnya bertanya kepada tetangganya apakah dia baru saja membunuh sang istri dan mengapa tangannya diikat.

Tarji, seorang saudara sepupu dari Sri Dewi, berkata bahwa pasangan tersebut telah menikah selama 10 tahun dan jarang sekali memiliki masalah. Namun, hanya dua bulan sebelum peristiwa pembunuhan itu, Nardian mulai menunjukkan perubahan dalam perilakunya – dia menjadi kurang bersahabat terhadap orang-orang disekitarnya dan mudah gelisah dan marah.

Sebuah pemeriksaan psikiater menyatakan bahwa Nardian memiliki masalah kejiwaan dan dia pun akhirnya dimasukkan ke dalam sebuah rumah sakit jiwa. Dia memberitahukan kepada para pemeriksa bahwa dia menjadi sering berkhayal dan berhalusinasi, dimana dia melihat istrinya berselingkuh dengan seorang pria lain.

Dalam sebuah kasus yang berbeda, seorang pria membunuh istrinya yang tengah hamil ketika sang istri menolak untuk memberikan kode sandi telepon genggamnya.

Sementara itu, seorang pria lainnya di Jawa Barat juga telah menghabisi nyawa istrinya, ketika dia mengetahui tentang hubungan gelap istrinya dengan pria lain.

Seorang profesor filosofi bernama Aaron Ben-Zeev menulis dalam majalah Psychology Today bahwa hampir semua kasus pembunuhan dimana para pria membunuh pasangan wanita mereka terjadi ketika sang wanita memutuskan untuk berpisah atau menunjukkan tanda-tanda akan meminta untuk berpisah atau bercerai.

Pada tahun 2008, Ben-Zeev meliput masalah ini dalam bukunya yang berjudul “In the Name of Love; Romantic Ideology and its Victims”, yang dalam bahasa Indonesia nya berarti “Atas Nama Cinta; Ideologi Romantis dan para Korbannya”.

Dalam buku tersebut dia menjelaskan bagaimana cinta dapat menjadi penyebab utama dibalik pembunuhan-pembunuhan tersebut. Dia menegaskan bahwa, sekalipun cinta seharusnya tidak dijadikan alasan untuk membunuh, keadaan pikiran kaum pria berpotensi membunuh tersebut perlu dimengerti untuk mencegah terjadinya kasus-kasus serupa.

Dalam kasus-kasus semacam ini, pelaku biasanya merupakan pasangan yang lebih lemah, yang melihat sang wanita sebagai pusat dari keberadaannya sendiri. Ben-Zeev menambahkan bahwa pria demikian tidak mampu mengijinkan pasangan mereka pergi ketika kemampuan mereka untuk menjaga pandangan tentang diri mereka sendiri bergantung pada keberadaan sang pasangan dalam hidup mereka.

Cinta semacam ini merupakan sejenis racun, yang membuat pasangan wanita mereka menjadi sandera dan dapat berakibat fatal jika dan ketika keadaan menjadi bermasalah.

Original: Indonesian family murders on the rise

Asia Times Financial is now live. Linking accurate news, insightful analysis and local knowledge with the ATF China Bond 50 Index, the world's first benchmark cross sector Chinese Bond Indices. Read ATF now. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *