Joko Widodo in campaign mode in a file photo. Photo: AFP/Romeo Gacad

Pada tahun 2014, elektabilitas Joko Widodo dalam sebuah polling capres saat itu turun dari 15 persen jumlah perbedaan suara sampai sekitar 2-3 persen saja pada bulan terakhir sebelum pemilu diadakan, dengan lawan yang sama yang juga ia hadapi dalam pemilu tahun ini, Prabowo Subianto.

Pada akhirnya, sang mantan gubernur DKI Jakarta menang dengan 53,1 persen suara, sementara Prabowo hanya mendapatkan 46,8 persen suara.

Lima tahun kemudian, tahun ini, sementara survei terbaru oleh surat kabar Kompas menunjukkan bagaimana elektabilitas Jokowi menurun sebanyak delapan persen semenjak Oktober lalu, hasil polling lainnya mengindikasikan bahwa pembahasan mengenai hal tersebut benar hanya pembahasan belaka.

”Kami cukup yakin,” ucap seorang anggota Bravo Five, yang merupakan sebuah tim kampanye sukarela bagi kubu Jokowi, yang dibentuk oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. ”Kami pikir perbedaan (jumlah suara) pada hari pelaksanaan pemilu akan sekitar 15 persen, lebih baik dari tahun 2014,” demikian imbuh sang anggota Bravo Five.

Sulit untuk menunjukkan jari pada perbedaan yang ada dalam pemilu tahun ini. Jokowi tetap populer namun jelas sekali karena faktor saat ini dia menjabat sebagai presiden petahana, sementara Prabowo tampaknya tidak memiliki energi atau keantusiasan yang sama ketika ia menghadapai lawan yang sama pada tahun 2014. Janji-janji dan pesan-pesan lain dari sang mantan panglima Kostrad pun tetap sama tahun ini dan terbilang monoton.

Bahkan Kompas dalam polling menunjukkan Jokowi dan cawapres Ma’ruf Amin memimpin dengan elektabilitas sebesar 49,2 persen, sementara elektabilitas Prabowo dan Sandiaga Uno adalah 37,4 persen.

Dua polling lainnya, yang dilakukan oleh Saiful Mujadi Consulting (SMRC) dan Lembaga Survei Indonesia (LMI), menempatkan sang petahana di antara 57-59 persen, dengan keunggulan atas Prabowo antara 16-20 persen. Ini mewakili antara 24-30 juta suara apabila jumlah rata-rata biasanya, yaitu sekitar 70 persen, dari 190 juta WNI yang memiliki hak suara, benar-benar datang ke TPS pada 17 April, dimana untuk pertama kali nya pilpres dan pileg diadakan secara serentak pada hari yang sama.

Jokowi tampak unggul di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara di Jawa Barat ia sebanding dengan Prabowo. Pada tahun 2014 Prabowo menang telak di Jawa Barat, yang merupakan provinsi dengan populasi tertinggi di Indonesia. Menurut polling Kompas, sang presiden petahana saat ini memimpin di seluruh Pulau Jawa, dengan elektabilitas sebesar 51,3 persen, sementara elektabilitas Prabowo adalah 34 persen. Sisanya, 14,7 persen, belum memutuskan pilihan mereka. Dengan Jawa diperhitungkan sekitar 57 persen dari jumlah total suara di seluruh penjuru Indonesia.

Itu saja sudah cukup bagi Jokowi untuk kembali memenangkan kursi kepresidenan untuk periode yang kedua, meskipun Prabowo tampak memimpin di Pulau Sumatra dengan elektabilitas 50.5 persen, sementara elektabilitas Jokowi disana adalah 37 persen.

Sementara itu, daerah-daerah utama lainnya, seperti Pulau Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua, dikabarkan berada di pihak Jokowi.

Original: Widodo in the clear as Indonesia elections near

Asia Times Financial is now live. Linking accurate news, insightful analysis and local knowledge with the ATF China Bond 50 Index, the world's first benchmark cross sector Chinese Bond Indices. Read ATF now. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *