Saudi Crown Prince Mohammad bin Salman at the Royal Court in Riyadh on January 14, 2019. Photo: AFP/Andrew Caballero-Reynolds/Pool

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, yang telah dicerca banyak negara di dunia oleh karena dugaan keterlibatan dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, dikabarkan akan tiba di Jakarta pada hari Kamis, 14 Februari, dalam sebuah kunjungan singkat yang tampaknya merupakan usaha sang pangeran untuk memperbaiki gambaran dirinya, khususnya dalam dunia usaha dan diplomasi.

Asia Times secara eksklusif telah mengetahui bahwa pangeran berusia 33 tahun, yang juga dikenal secara umum dengan sebutan MBS, tersebut telah membuat permintaan untuk mengunjungi Indonesia di bulan Desember, sebagai bagian dari sebuah tur ke beberapa negara dengan populasi umat Muslim disekitar Asia, dengan seorang sumber berkedudukan tinggi di pemerintahan Arab Saudi menggambarkan kunjungan tersebut sebagai sebuah usaha untuk “pencitraan ulang”, namun mungkin juga dengan unsur bisnis sebagai pemanis.

Kunjungan yang tidak diumumkan tersebut dilakukan dua tahun setelah ayahnya, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saudi, melakukan kunjungan pertama yang dilakukan seorang raja Saudi ke Indonesia dalam 47 tahun, dimana saat itu rombongan Kerajaan Arab Saudi menghabiskan uang untuk kamar hotel yang lebih besar jumlahnya dibandingkan jumlah investasi langsung yang dimiliki kerajaan itu di negara yang memiliki populasi umat Muslim terbesar di dunia tersebut disepanjang tahun 2017.

Beberapa sumber dari komunitas Muslim lokal berkata bahwa Riyadh telah memiliki perubahan sikap terhadap Indonesia sejak konferensi IMF dan Bank Dunia di Bali pada Oktober lalu, yang memamerkan potensi ekonomi negara tuan rumah dan menunjukkan bahwa Indonesia lebih dari sekedar negara pengeksor pembantu rumah tangga.

“Pertemuan IMF benar-benar membuka mata bagi banyak pengusaha Saudi,” klaim seorang tokoh Muslim Indonesia yang memiliki ikatan kuat dengan kerajaan Saudi. “Mereka mengira kami adalah negara miskin yang hanya menghasilkan pekerja rumah tangga. Mereka terkejut kami membuat kereta, kapal dan pesawat,” imbuhnya.

Awal tahun ini, Indonesia menjadi negara tamu di Festival Janadriyah, sebuah pameran seni dan budaya tahunan yang bergengsi di Riyadh. Keikutsertaan Indonesia dalam acara tersebut telah membantu posisinya di dunia Arab.

Sumber-sumber yang dimaksud menolak berspekulasi bahwa kunjungan tersebut dijadwalkan untuk memberi Presiden Joko Widodo dorongan menjelang pemilihan presiden pada April nanti, mengingat upaya sang presiden yang berkesinambungan selama setahun terakhir ini dalam meningkatkan posisinya di kalangan Islam konservatif.

Dalam langkah keliru terakhirnya, sang presiden petahana baru-baru ini terpaksa untuk menarik kembali amnesti yang dia rencanakan untuk pemimpin teroris Abdul Bakar Ba’asyir, yang sekarang menjalani hukuman penjara 15 tahun karena mendanai pelatihan militan, setelah tahanan terorisme tersebut menolak bersumpah setia kepada ideologi negara, Pancasila.

“Untuk Widodo, nilai keuntungan untuk pemilihan yang dia dapatkan tidak akan banyak,” demikian ungkap tokoh Muslim yang sama, merujuk pada kunjungan pangeran Saudi. Dia menambahkan, “Muslim moderat aman di kubunya (Widodo) dan kaum Islamis (konservatif) tidak suka MBS. Dia dianggap terlalu liberal. Pengaruh buruk.”

Dan ini disebabkan oleh karena pengakuan sang pangeran sendiri bahwa Wahabisme Arab Saudi yang tumbuh di negerinya, yaitu sebuah gerakan keagamaan dan doktrin Islam ultra-konservatif yang dimulai pada 1700-an, telah bertanggung jawab atas pertumbuhan radikalisme dan terorisme di seluruh dunia.

Original: Saudi Prince MBS to make re-branding visit to Indonesia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *