Baiq Nuril Maknun faces jail after recording was shared on social media. Photo: Screen grab from YouTube.


Pada tanggal 15 November, Baiq Nuril Maknun, 37, dijatuhi hukuman enam bulan penjara setelah pengadilan menemukan dirinya bersalah telah menyebarkan hal “tidak senonoh” berdasarkan UU Informasi dan Transaksi Elektronik Indonesia, Reuters melaporkan.

Maknun dilaporkan merekam pembicaraannya dengan kepala sekolah dari sebuah sekolah tempat nya bekerja di Lombok. Dalam pembicaraan tersebut, sang pria diduga mengungkapkan secara detil mengenai hubungan gelap nya dengan seorang wanita lain. Dia juga meminta Maknun untuk menemuinya di sebuah kamar hotel.

Rekaman tersebut kemudian menyebar dan menangkap perhatian kantor departemen pendidikan setempat, yang kemudian memberhentikan kepala sekolah yang dimaksud.

Kepala sekolah tersebut kemudian menuntut Maknun atas pencemaran nama baik dan melaporkan kepada polisi bahwa Maknun telah menyebarkan “hal yang tidak senonoh”.

Pengadilan negeri sebelumnya telah membebaskan Maknun dari segala tuntutan. Namun, pengadilan tinggi akhirnya menjatuhi hukuman penjara selama enam bulan disertai dengan denda sebesar 500 juta rupiah.

Namun keputusan pengadilan tersebut menciptakan badai yang besar, dengan beberapa kelompok aktivis menuntut negara untuk membebaskan Maknun. Kepala Amnesty International Indonesia Usman Hamid menggambarkan keputusan pengadilan tersebut sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” dan menambahkan bahwa wanita tersebut hanya berusaha mendokumentasikan pelecehan seksual yang dia terima dari atasan nya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo telah menganjurkan kepada sang wanita untuk meminta peninjauan ulang kasusnya. Dia juga berkata bahwa, apabila itu juga tidak berhasil, maka Maknun dapat mengajukan permintaan untuk grasi atau pengampunan dari sang presiden.

Original: Indonesian woman jailed over recording of sex harassment

Asia Times Financial is now live. Linking accurate news, insightful analysis and local knowledge with the ATF China Bond 50 Index, the world's first benchmark cross sector Chinese Bond Indices. Read ATF now.