Indonesian President Joko Widodo (R), sits on the back side of a decoration bicycle with a picture of himself at a newly opened terminal at Semarang city airport, in Central Java, on June 7, 2018. Photo: AFP/ Presidential Palace/Handout
Indonesian President Joko Widodo (R) sits on the back side of a decoration bicycle with a picture of himself, June 7, 2018. Photo: AFP/ Presidential Palace/Handout

Apabila ada yang meragukan kehangatan yang dimiliki mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama terhadap mantan atasan nya, Presiden Joko Widodo, cobalah melihat pada tambahan sebanyak sembilan bulan mendekam dalam penjara yang dia berikan kepada dirinya sendiri untuk menghindari semakin panasnya situasi politik menjelang kampanye pemilihan presiden 2019.

Hampir dua pertiga dari dua tahun masa penjara telah dilalui oleh pejabat keturunan Tionghoa beragama Kristen yang dikenal dengan sebutan “Ahok” tersebut, dan seharusnya dia sudah boleh meninggalkan penjara Mako Brimob bulan depan.

Purnama, yang dipenjara atas tuduhan penistaan agama, memutuskan untuk mengorbankan hak nya atas pembebasan bersyarat dan menyelesaikan seluruh masa tahanannya yang dijadwalkan berakhir pada bulan Mei tahun depan, tidak lama setelah pilpres 2019, dimana pembebasannya tidak dapat dipakai sebagai senjata politik untuk melawan Widodo yang saat ini berada di puncak jejak pendapat dalam keikutsertaan nya di pilpres tahun depan untuk menjabat sebagai presiden RI periode yang kedua.

Pada tahun 2012, keduanya berpasangan dan memenangkan pemilihan gubernur Jakarta. Saat Widodo melepaskan jabatan nya sebagai gubernur untuk menjadi kepala negara, Purnama pun mengambil alih kursi kepemimpinan ibukota, menjadikannya etnis Tionghoa pertama dan orang Kristen kedua yang menjadi gubernur di DKI Jakarta.

Semenjak menjadi gubernur, Purnama pun langsung menghadapi tekanan dan perlawanan dari kelompok-kelompok Islam radikal yang rasis, dan kejatuhannya akhirnya terjadi saat pidatonya dalam sebuah kegiatan kampanye gubernur DKI Jakarta pada tahun 2016 dinilai menistakan agama Islam, sekalipun banyak kalangan Muslim yang mengakui akan memilihnya apabila melihat dari kinerjanya saja.

Di puncak permasalahan politiknya, baru-baru ini dia pun harus menghadapi perceraian dengan istrinya setelah 20 tahun pernikahan. Kabar terbaru mengenai Purnama adalah keseriusannya dalam mempertimbangkan sebuah tawaran untuk mengajar mengenai kebijakan umum di Universitas Harvard di Amerika Serikat.

Menurut beberapa sumber yang dekat dengan Istana, Purnama telah mendapatkan ungkapan terima kasih dari Widodo pada saat sang presiden merundingkan mengenai siapa yang akan dia pilih sebagai pasangannya dalam pilpres tahun depan, sekalipun masih tetap ada kecemasan mengenai gerakan Aksi 212 yang berhasil menjatuhkan Purnama dan sering menyebut Widodo “tidak Islami”.

Namun sekalipun taktik ini berhasil digunakan dalam pemilihan gubernur Jakarta tahun lalu, hasil dari pilkada serentak di ke-34 provinsi di Indonesia baru-baru ini memperlihatkan bahwa taktik yang sama tampaknya tidak memiliki pengaruh yang sama di panggung nasional.

Original: Pre-election jockeying rides wild in Indonesia