A stall owner sits between piles of bananas. Photo: Taiwan Central News Agency

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dikabarkan sangat marah dalam sebuah pertemuan kabinet sampai memarahi para petugas kementerian pertanian mengenai merosotnya harga pisang yang ditanam di dalam negeri karena kurangnya ekspor yang menyebabkan kelebihan penawaran pisang secara umum di seluruh penjuru Taiwan.

Tsai menyalahi perencanaan yang buruk serta pengawasan yang longgar pada saat para petani di selatan Taiwan, khususnya di daerah Pingtung, mempercepat penanaman pisang untuk mengantisipasi lonjakan harga lebih lanjut.

Tsai sendiri berasal dari Pingtung dan kemenangannya pada pemilihan presiden di tahun 2016 didorong oleh banyaknya jumlah pemilih yang berasal dari daerah selatan Taiwan ini, yang kebanyakan merupakan pemilik lahan pertanian dan perkebunan.

Taiwan memiliki lebih dari 6.000 hektar perkebunan pisang yang memproduksi sebanyak 190.000 ton per tahun.

Petani pisang Taiwan saat ini sedang berada dalam perang harga, dengan pisang berkelas atas pun jatuh harganya menjadi NT$6 (20 sen US) per kilogram sementara pisang kelas terendah saat ini hanya dihargai NT$1 (3 sen US) per kilogram, menurut seorang petugas Kementrian Pertanian Taiwan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, harga grosir pisang berada disekitar 50 sampai 65 sen US per kilo-nya.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa penguncian ekonomi Beijing untuk ekspor Taiwan telah berdampak kepada ekspor pisang dari pulau tersebut ke dataran Tiongkok, sementara pisang dari provinsi Hainan serta wilayah Asia Tenggara seperti Filipina, Indonesia dan Vietnam sangat cepat mengukir pasaran di dataran Tiongkok.

Sementara itu, Taiwan News melaporkan bahwa perusahaan raksasa pengolahan makanan Taiwan, I-Mei Foods Co, telah bergegas untuk meringankan kesengsaraan petani pisang dengan janji untuk membeli tambahan 200 ton pisang untuk menopang harga, yang merupakan bagian dari inisiatif stabilisasi harga pemerintah Taiwan.

Perusahaan tersebut dilaporkan akan membeli pisang dengan harga hampir tiga kali lipat harga pasaran saat ini.

Kepala perusahaan I-Mei Luis Ko mengatakan bahwa pihaknya akan terus membantu petani lokal. Pada saat ditanya apa yang akan dilakukannya dengan pisang yang akan dibelinya, Ko menjawab bahwa perusahaannya pertama-tama akan menyimpannya dalam lemari es sebelum kemudian membuat produk-produk baru dengan bahan dasar pisang.

Perusahaan itu juga telah merekrut tenaga kerja dari Filipina, termasuk dengan melakukan wawancara dan orientasi kerja secara langsung di Davao, selatan Filipina setahun belakangan ini. Pengembalian biaya tiket pesawat dan visa bahkan ditawarkan untuk memikat para pekerja untuk membantu memproses persediaan pisang I-Mei.

Selain itu, pemerintah Taiwan telah menandatangani kesepakatan untuk mengekspor 12 metrik ton pisang per minggu ke Timur Tengah, mulai dari 8 Juni.

Netizen Taiwan pun ikut membantu krisis ini dengan memberikan ide-ide kreatif seperti jus pisang, susu kedelai pisang dan puding pisang, yang diharapkan dapat mendorong permintaan pasar.

Original: Taiwan’s latest crisis: farmers going bananas over glut

Asia Times Financial is now live. Linking accurate news, insightful analysis and local knowledge with the ATF China Bond 50 Index, the world's first benchmark cross sector Chinese Bond Indices. Read ATF now.