MOHW Nantou Hospital in Taiwan. Photo: Google Maps

Seorang pekerja migrant Indonesia (PMI) yang didiagnosa terkena peradangan otak akut telah menerima perawatan medis gratis di Taiwan sekalipun tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan dengan status nya sebagai pekerja ilegal.

Dedi Putra, 28, dari Siak, propinsi Riau, ditangkap dalam sebuah operasi kerjasama antara kepolisian dan petugas imigrasi setempat bulan yang lalu. Dia didapati telah melebihi batas waktu tinggal visanya dan kemudian ditahan di Pusat Immigran Ilegal di Nantou, The Commons Daily melaporkan.

Sementara menantikan proses deportasi, Putra diarahkan kepada seorang psikiater setelah menunjukkan tanda-tanda gangguan mental. Kemudian dia dibawa ke unit kelainan saraf di Rumah Sakit Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Nantou, dimana yang bersangkutan didiagnosa dengan sebuah peradangan otak yang bersifat akut.

Sebagai seorang PMI ilegal, Putra tidak dijamin oleh kebijakan kesehatan nasional Taiwan. Namun, sekalipun biaya pengobatannya cukup besar, rumah sakit tersebut menyetujui untuk memberikan pengobatan gratis kepada Putra.

Setelah pengobatan selama tiga minggu, Putra, yang awalnya sudah sempat koma dan tergeletak tak berdaya di ranjang rumah sakit, kembali sadar dan kondisinya kemudian membaik.

Melalui Kantor Perekenomian dan Perdaganan Indonesia di Taipei, keluarga Putra dapat dihubungi dan menerima informasi mengenai keadaan yang bersangkutan. Kakak tertuanya beserta beberapa anggota keluarga lainnya telah sampai di Taiwan pada tanggal 30 Maret dan akan bersama Putra kembali ke Indonesia pada tanggal 11 April.

Original: Sick Indonesian migrant given free medical care in Taiwan